Nasir Tamara

Nasir Tamara, yang pada 1970-an adalah wartawan Sinar Harapan di Paris, merupakan satu-satunya wartawan Indonesia—satu di antara dua wartawan Asia—yang mengikuti perjalanan pulang bersejarah Ayatullah Khomeini dari Paris ke Tehran di awal Januari 1979.Di depan matanya berlangsung revolusi Iran: perubahan struktur kekuasaan, ekonomi, politik dan sosial. Seorang raja yang ditunjang oleh tentara urutan kelima terkuat di dunia digulingkan oleh rakyat tak bersenjata di bawah pimpinan seorang ulama yang hampir 15 tahun berada di pengasingan.Pernah kuliah di Akademi Sinematografi, LPKJ, Jakarta dan di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, jurusan Antropologi.Nasir Tamara mendapat beasiswa dari pemerintah Prancis di tahun 1974 untuk belajar jurnalistik di Centre de Formationdes Journalistes, Paris, yang dipimpin oleh Hubert Beuve-Mery, pendiri koran terkenal Le Monde. Lalu dilanjutkan di Institut Francais de Presse, Universite de Paris II sampai selesai. Sementara itu diikutinya kuliah Ilmu Politik di Universite de ParisI Sorbonne dan Antropologi di Universite de Paris VII sampai mendapat gelar S2 di masing-masing disiplin. Tahun 1981 ia mendapat gelar doktor Sejarah dan Antropologi dari Ecole des Hautes d’Etudes en Sciences Sociales, Universite de Paris.Nasir Tamara pernah bekerja sebagai koresponden Tempo di Paris. Di Eropa ia praktek kerja di kantor berita Prancis, AFP, Paris, dan di harian The BirminghamPost Inggris. Nasir Tamara yang terkadang menulis di mingguan Far Eastern Economic Review serta harian Suara Pembaruan dan Kompas, juga turut mendirikanharian Republika, majalah Kapital, dan Global TV. Selain Revolusi Iran, dia menulis, menerjemahkan, dan menjadi editor sekitar 20 buku, di antaranya Agama dan Dialog Antar Peradaban, Perang Iran Perang Irak, Hamka di Mata Hati Umat, Indonesia in the Wake of Islam, Di Puncak Himalaya Sang Dwiwarna Kukibarkan, Aburizal Bakrie: Bisnis dan Pemikirannya, Indonesia Tahun 2000, Mencuri Uang Rakyat: Korupsi di Indonesia, Indonesia Rising: Islam, Democracy and the Rise of Indonesia.Penulis ini kemudian pernah mengajar di berbagai universitas di Indonesia dan School of Oriental and Asian Studies, University of London. Ia juga pernah bekerja sebagai Senior Research Fellow/Ahli Peneliti Utama di Institute for Southeast Asian Studies, Singapura dan Asia Research Institute, National University of Singapore. Jauh sebelumnya ia menjadi Fellow di Center for International Affairs, HarvardUniversity dan Queen Elizabeth House, Oxford University.Nasir Tamara dilahirkan di Kalianda, sebuah kota kecil di Lampung, tanggal 4 Januari 1951. Ayahnya seorang pejuang kemerdekaan yang amat mencintai negerinya.